Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Stres Anak dan Bantuan Mengatasinya


Anak-anak dapat pula mengalami stres dan bila tidak dapat diatasi dengan baik dapat menyebabkan penyakit secara fisik, emosi maupun mental. Maka, bagaimana Anda sebagai orang tua dapat mengetahui gejala stres pada anak? Apa penyebabnya? Apa yang dapat dilakukan untuk membantu anak keluar dari stres anak?



Kumpulan.info - Saat sedang banyak pikiran, seorang dewasa kadang-kadang kita ingin kembali ke masa kanak-kanak karena berpikir pada masa itu seorang anak dapat bermain dengan bebas tanpa perlu memikirkan keluarga, keuangan, atau hal lainnya. Namun, seorang anak yang masih polos pun juga bisa mengalami frustasi dan stres. Bahkan beberapa penyakit pada anak bisa jadi disebabkan karena reaksi psikosomatik yang disebabkan karena stres.

Penyebab Stres Anak

Stres pada anak dapat terjadi pada berbagai usia, bahkan sejak usia dini, sejak dalam kandungan. Bila ibu yang mengandung mengalami stres, janin yang ada dalam kandungan juga akan merasakannya. Detak jantung janin menjadi tidak teratur, sehingga persediaan oksigen dan sari makanan berkurang. Seiring pertambahan usia terutama saat masa remaja, berbagai penyebab dapat memicu stres pada anak, di antaranya adalah:
  • Makanan

    Kurangnya kandungan gizi pada makanan dapat menyebabkan pertumbuhan anak tidak optimal dan suplai gizi yang diperlukan tubuh tidak tercukupi sehingga dapat menimbulan stres. Begitu juga, konsumsi makanan cepat saji yang berlebihan, karena makanan tersebut memiliki kandungan gula yang berlebih dan minim gizi untuk tubuh.
  • Kurang tidur

    Terlalu banyak bermain atau menonton televisi membuat anak kekurangan jam tidurnya. Untuk anak yang telah bersekolah, banyaknya tugas dari sekolah, kegiatan ekstrakurikuler atau kursus yang berlebihan membuat anak kekurangan waktu dan harus menghabiskan waktu untuk menyelesaikan tugasnya sehingga jam tidur berkurang. Kurang tidur dapat menyebabkan emosi dan pikiran anak menjadi tidak stabil dan rentan mengalami stres.
  • Lingkungan keluarga

    Pertengkaran orang tua atau perceraian dapat menyebabkan ketakutan pada anak. Hal ini wajar, karena seorang anak sangat mendambakan kasih sayang orang di sekelilingnya, terutama orang tuanya untuk membuatnya merasa aman dan terlindung.
  • Pola asuh orang tua

    Secara umum, pola asuh orang tua terdiri dari 3 macam. Pertama,authoritarian di mana orang tua bersikap otoriter, tidak memberi anak kebebasan dan memaksa anak agar memenuhi tuntutan orang tua bahkan menganiaya anaknya. Kedua, permissive yaitu orang tua sangat membebaskan anaknya walaupun seorang anak belum dapat membuat keputusan dengan tepat dan membiarkan kesalahan anak. Ketiga, authoritative yaitu orang tua menentukan dengan jelas konsekuensi dari setiap tindakan yang diambil, mereka tidak mengekang anak secara berlebihan juga tidak membebaskannya, tetapi terus memberi perhatian pada anak dan berusaha membentuk anak yang mandiri. Pola authoritative ini yang paling baik untuk membentu kepribadian anak. Stres dapat terjadi pada anak apabila dia merasa tidak dapat memenuhi tuntutan orang tuanya ataupun karena dia harus mengalami konsekuensi buruk akibat kesalahan keputusan yang diambilnya.
  • Tekanan dari teman

    Dalam pergaulannya, seorang anak tidak ingin berbeda dari anak-anak lain dari kelompoknya. Perbedaan seorang anak, mungkin karena fisik atau sifatnya dapat memancing ejekan dari teman-temannya. Ini pula yang dapat menyebabkan seorang anak merasa stres karena merasa tidak dapat diterima oleh teman-temannya.

Bagaimana Anak Memandang suatu Peristiwa?

Kematian orang tuaAnak akan merasa bersalah. Anak memandang bahwa orang tua meninggal karena kesalahannya yang sering membuat orang tuanya marah.
PerceraianAnak merasa ditelantarkan. Logika seorang anak mengatakan bahwa jika orang tua dapat berhenti mengasihi satu sama lain, mereka pun dapat berhenti mengasihi dia.
Pertengkaran orang tuaAnak ketakutan saat melihat orang tua bertengkar. Pertengkaran orang tua dapat menimbulkan stres berat sehingga mengakibatkan muntah-muntah, tanda-tanda ketegangan pada wajah, kerontokan rambut, naik atau turunnya berat badan, dan bahkan bisul-bisul.
Terlalu banyak tuntutanKarena ditekan untuk menjadi yang terbaik di sekolah, di rumah, dan bahkan sewaktu bermain, sang anak tidak pernah menang dan perlombaan tidak pernah berakhir.
Ada adik baruKarena anak harus berbagi perhatian dan kasih sayang orang tuanya, ia mungkin merasa telah kehilangan orang tua sebaliknya daripada mendapat adik.
KesalahanAnak memandang kesalahan seperti penghinaan. Karena memiliki citra diri yang labil, anak-anak cenderung memandang segala sesuatu jauh melampaui porsinya. Ia mendapati bahwa penghinaan adalah salah satu penyebab umum bunuh diri di kalangan anak-anak.
CacatSeorang anak yang cacat fisik atau mental mungkin harus menanggung ejekan dan ketidaksabaran guru dan anggota keluarga yang menyatakan kekecewaan atas apa yang sama sekali di luar kesanggupannya. Hal ini akan menyebabkan frustasi pada anak.

Gejala Stres

Seorang anak yang stres dapat diidentifikasi dengan memperhatikan tingkah lakunya. Reaksi-reaksi psikosomatik, termasuk problem pencernaan, sakit kepala, kelelahan, gangguan tidur, dan masalah sewaktu buang air, mungkin merupakan tanda-tanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Tanda lainnya seperti sering menangis, senang menyendiri, rewel, tidak mau berangkat ke sekolah atau suatu tempat, membuat kenakalan di sekolah atau di lingkungan tempat bermainnya, penurunan nilai sekolah. Bahkan stres juga dapat menyebabkan penyakit fisik pada anak, misalnya merasa pusing, mual, diare, kelumpuhan akibat depresi, atau penyakit lainnya.
Apabila seorang anak mengalami sakit dalam waktu lama dan setelah dikonsultasikan ke dokter tidak ditemukan penyebab pastinya, maka tidak ada salahnya bila Anda meminta bantuan seorang psikolog, karena penyakit tersebut bisa saja bukan disebabkan virus, bakteri atau kerusakan pada tubuh melainkan disebabkan pikiran anak yang sedang stres.

Membantu Anak yang Mengalami Stres

Sebagai manusia yang belum berpengalaman dan kapasitas otak yang belum optimal, seorang anak tidak memiliki kemampuan untuk mencari solusi dari stres yang dideritanya sehingga perlu mendapat bantuan dari orang dewasa untuk dapat mengatasi kesulitannya sehingga stres yang dialaminya tidak berkepanjangan.
Bila ada indikasi anak Anda mengalami stres, hindari untuk merasa panik berlebihan karena bila Anda panik maka Anda dapat pula menderita stres sehingga tidak dapat membantu anak Anda. Yang dapat Anda lakukan untuk membantu anak Anda adalah:
  • Perbaiki pola asuh Anda

    Bila selama ini Anda cenderung otoriter atau sebaliknya serba boleh, sebaiknya Anda mengubah pola asuh Anda agar anak Anda tidak merasa terbebani dengan tuntutan yang berlebihan. Sebaliknya, berikan aturan yang jelas, mengapa aturan tersebut diberikan dan konsekuensi apabila peraturan dilanggar. Jangan lupa untuk memberikan pujian jika anak Anda bersikap positif, tetapi berikan teguran atau disiplin apabila anak melakukan pelanggaran serta penjelasan mengapa disiplin diberikan dan bukan karena orang tua membenci anaknya.
  • Jangan buat tuntutan yang berlebihan

    Orang tua menginginkan anaknya mencapai yang terbaik, tetapi jangan tetapkan target yang tidak dapat dicapai oleh anak. Jangan pula mengritik atau membanding-bandingkan seorang anak dengan orang lain. Terimalah seorang anak dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Jika seorang anak gagal mencapai tuntutan yang Anda berikan, jangan menghukum atau mengejeknya, tetapi bantulah anak agar dapat menjadi lebih baik di kemudian hari. Kegagalan yang dialami anak sekarang bukan berarti dia tidak dapat menjadi lebih baik dan bukan berarti akhir segalanya.
  • Buat kedekatan dengan anak dan komunikasi yang terbuka

    Kedekatan orang tua dengan anak akan membantu seorang anak terbuka terhadap orang tua dan leluasa menjadikan orang tua sebagai tempat curhat. Anak dapat menceritakan kejadian yang tidak menyenangkan yang dialaminya saat di sekolah atau di luar rumah. Orang tua, sebagai manusia yang lebih berpengalaman dapat memberikan solusi yang baik untuk anak atau mengambil tindakan yang diperlukan agar kejadian tidak menyenangkan dapat dihindari. Ini sangat baik dibandingkan jika anak menceritakan permasalahannnya kepada teman sebaya atau orang lain yang tidak tepat yang dapat memberikan saran yang membuatnya semakin terpuruk.
  • Ciptakan keluarga yang harmonis

    Hubungan ayah ibu yang harmonis, kedekatan dengan kakak adik dan anggota keluarga lain membuat anak merasa nyaman dan betah di rumah, membantunya terhindar dari pergaulan buruk yang dapat menimbulkan berbagai masalah yang dapat membuat anak stres. Selain itu, dengan keluarga harmonis dapat menghindari terjadinya pertengkaran bahkan perceraian yang akan mengganggu kestabilan emosi anak.
  • Bentuk anak yang mandiri

    Seorang anak pada saatnya harus menjadi mandiri, karena tidak mungkin orang tua terus menerus mengawasinya. Maka, bantu anak dengan melatihnya untuk membuat keputusan yang diperlukan. Misalnya, saat seorang anak menanyakan apakah suatu tindakan boleh dilakukan atau tidak, ajak anak berdiskusi apa hal baik dan hal negatif yang akan terjadi jika anak melakukan hal tersebut. Hal ini dapat membantu anak jika suatu saat ia harus membuat keputusan tanpa bantuan orang tua. Anak yang mandiri juga akan lebih dpaat menyelesaikan masalahnya dan menangani saat dia merasa tidak nyaman sehingga mencegah anak mengalami stres.
  • Beri keleluasan yang wajar untuk anak

    Untuk hal-hal yang tidak terlalu prinsip, berikan keleluasan pada anak. Misalnya dalam menentukan kegiatan ekstrakurikuler atau kursus yang akan diikutinya. Biarkan anak menyalurkan hobinya sehingga anak tidak merasa terkekang dan menikmati aktivitasnya.
  • Berikan makanan sehat dan tidur cukup

    Karena asupan gizi dapat mempengaruhi stres anak, maka sajikan makanan yang bergizi untuk Anda, jangan membiasakannya dengan makanan cepat saji, soft drink, atau jajanan lain yang tidak bergizi. Juga biasakan anak agar makan dengan teratur dan tepat waktu. Sedangkan untuk membantu anak cukup tidur, bantu anak agar memiliki jadwal yang baik, tentukan kapan dia boleh bermain, kapan harus mengerjakan tugas dan jadwal lainnya sehingga anak memiliki waktu untuk tidur siang dan tidak sampai harus tidur larut malam untuk mengerjakan tugasnya.
Perhatian dan kasih sayang yang dari orang tua tertutama yang dibutuhkan anak dan membantu anak terhindar dari stres. Maka, terus dukung, latih dan asuh anak Anda agar dia dapat menikmati hari-harinya dengan ceria.  SOURCE
Continue reading →

CARA MEWUJUDKAN KELUARGA BAHAGIA



Setiap orang yang membina rumah tangga pastinya menginginkan keluarganya bahagia. Namun, tak jarang dalam berumah tangga ada liku-liku kehidupan dan berbagai masalah yang menimpa. Jika hal ini tak dapat diatasi mengakibatkan hal yang fatal hingga berujung pada  perceraian. Dalam keluarga tidak ada standar yang baku untuk menentukan tingkat kebahagiaan dalam rumah tangga, karena setiap keluarga memiliki standar yang berbeda-beda. Berikut adalah beberapa hal yang dapat membantu agar kebahagiaan keluarga dapat terwujud:

Peliharalah cinta
Cinta merupakan energi yang dahsyat untuk mengembangkan dan menyempurnakan keluarga. Perkawinan yang dibangun tanpa landasan cinta sebetulnya adalah omong-kosong belaka. Perkawinan tanpa cinta sama saja membangun rumah tanpa tiang. Rapuh dan lama-lama akan hancur dan roboh.

Optimalkan komunikasi dalam keluarga.
Komunikasi juga merupakan salah satu pilar langgengnya hubungan suami-istri. Hilangnya komunikasi berarti hilang pula salah satu pilar rumah tangga. Dalam keluarga komunikasi ibarat sayap, tanpa sayap seekor burung tidak dapat terbang dengan baik. Begitu juga dalam keluarga, jika komunikasi sudah tidak terjain dengan baik maka keharmonisan pun juga tidak sempurna.

Hormati pasangan
Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda. Begitupula antara suami dan istri pastilah memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Maka, hormatilah kelebeihan dan kekurangan tersebut agar  tidak saling meremehkan, karena perbedaan itu adalah anugarah dan jadikan itu sebagai pemersatu.

Percayai pasangan
Tanpa rasa saling percaya antara pasangan suami-istri, perkawinan tentu tak akan berjalan mulus. Bagaimana bisa mulus jika suami atau istri selalu mengawasi gerak-gerik kita karena ketidakpercayaannya itu? Yang muncul adalah kegelisahan, kecurigaan, kekhawatiran, tak pernah merasa tenteram, dan sebagainya.  Kuncinya, jangan sia-siakan kepercayaan yang diberikan suami Anda. Istri tak perlu mencurigai suami, dan sebaliknya, suami juga tak perlu mencurigai istri. Membangun rasa saling percaya juga merupakan perwujudan cinta yang dewasa.

Jaga keromantisan
Seiring berjalannya waktu kadang keromantisan ini berkurang, saat masih pengantin baru masih memperhatikan keromantisan namun, seiring berjalannya waktu bisa berkurang.  Padahal, menjaga romantisme dibutuhkan oleh pasangan suami-istri sampai kapan pun, tak cuma ketika pengantin baru. Sekedar memberikan bunga, mencium pipi, menggandeng tangan, saling memuji, atau berjalan-jalan menyusuri tempat-tempat romantis akan kembali memercikkan rasa cinta kepada pasangan hidup Anda. Tentu, ujung-ujungnya pasangan suami-istri akan merasa semakin erat dan saling membutuhkan.

Hindari pihak ketiga
Kehidupan perkawinan merupakan otonomi tersendiri, yang sebaiknya tak dicampuri oleh pihak lain, apalagi pihak ketiga. Kehadiran pihak ketiga yang ikut campur tangan atau mempengaruhi dan masuk ke wilayah otoritas keluarga, bisa menciptakan bencana bagi rumah tangga tersebut. Bila Anda menginginkan kehidupan rumah tangga Anda langgeng bahagia, sebisa-bisanya hindari campur tangan pihak ketiga.

Mudah-mudahan bermanfaat dan kebahagian senantiasa menyelimuti keluarga kita..........
Continue reading →

Resep Keluarga Bahagia


Seperti apakah keluarga bahagia itu? Apakah yang selalu tertawa setiap saat? Apakah yang tak pernah menghadapi masalah? Apakah seperti keluarga yang tinggal satu baris dengan rumah Anda? Nyatanya, bahkan keluarga yang terlihat bahagia pun memiliki masalah yang sama dengan keluarga lainnya. Entah itu rumah berantakan, masalah keuangan, anak yang rewel, dan banyak lagi. Lalu, apakah arti keluarga bahagia? 

รข€ล“Menjadi bahagia sebagai sebuah keluarga merupakan hal yang lebih dalam dari sekadar bersenang-senang bersama atau merasakan euforia saat menerima kado,รข€ terang Scott Haltzman, MD, penulis buku The Secrets of Happy Families. รข€ล“Menjadi keluarga yang bahagia memiliki makna mendalam dan tujuan dalam hidup,รข€ terang Scott. Ketika Anda memilikinya, rasa sedih atau stres bisa lebih diatasi dan melihatnya dalam perspektif berbeda. Ditambah lagi, rasa senang dan bahagia jadi lebih bisa terasa. Berikut adalah kunci untuk membangun keluarga yang lebih bahagia.

1. Keluarga bahagia, mengetahui siapa dirinya
Ketika seluruh anggota keluarga Anda sudah memiliki nilai-nilai atau aturan tersendiri, dan secara konstan hidup dengan standar tersebut, maka Anda akan membangun identitas keluarga yang lebih kuat dan mengurangi konflik.

Menentukan nilai-nilai dasar keluarga tak hanya bisa mendukung banyak kualitas yang membangun Anda lebih dekat, tapi bisa menjadi penengah ketika keluarga Anda sedang dalam konflik. Misal, karena Anda dan keluarga mengutamakan kebersamaan, Anda memutuskan untuk berlibur bersama. Bila mungkin, Anda juga akan meliburkan anak-anak dari sekolah selama beberapa hari. Sementara keluarga yang lebih mementingkan pendidikan, akan menunggu libur sekolah tiba untuk untuk berlibur bersama anak-anak.

2. Keluarga bahagia, bersandar pada orang lain
Lingkungan yang dekat dengan Anda, seperti keluarga besar, teman, tetangga, dan lain-lainnya, sangat penting untuk kebahagiaan Anda. Menghabiskan waktu bersama dengan keluarga besar Anda bisa membantu anak-anak melihat nilai-nilai yang dianut oleh keluarga besar, misalnya saling membantu. Sehingga, nilai-nilai dasar yang dianut keluarga bisa lebih terlihat.

3. Keluarga bahagia, selalu bisa bangkit dari keterpurukan bersama-sama
Melewati masa sulit justru bisa membantu Anda lebih dekat dengan keluarga, ujar Haltzman. Namun, jangan lupa untuk memaksimalkan kemampuan keluarga menghadapi masalah besar. Misal, dengan mengajarkan kepada anak-anak untuk tetap bersyukur dalam segala hal, baik dalam keadaan senang maupun susah. Jangan lupa mencari cara untuk tetap berpikir positif. 

Rutinitas dan ritual bersama juga bisa membantu keluarga lebih dekat. Misal, menyiapkan waktu untuk membaca buku bersama atau bermain bersama. Apa pun yang bisa mendekatkan keluarga dan membuat anak lebih bahagia bisa dijadikan rutinitas. Dengan begitu, di mana pun, kapan pun Anda berada, bisa terasa lebih nyaman bersama ketika menghadapi perubahan.

4. Keluarga bahagia, bersantai bersama
Semua manusia butuh liburan, butuh untuk bersantai. Entah itu dengan berlibur, menikmati suasana pantai, jalan-jalan di sore hari, atau memasak bersama. Apa pun kegiatannya, lakukanlah bersama-sama. Anda bisa menyusun rancangan dan tujuan keluarga bersama, tapi Anda dan keluarga juga perlu mundur sejenak untuk menikmati hidup.

Haltzman menyarankan keluarga untuk menyiapkan waktu untuk bersenang-senang tanpa rencana. Misal, menyisihkan waktu setiap sore hari untuk berjalan kaki keliling kompleks rumah bersama keluarga, atau bermain di halaman rumah. Yang diutamakan di sini bukan agenda acaranya, melainkan kebersamaannya.   SOURCE
Continue reading →

Melihat Tumbuh Kembang si Kecil


Apa saja yang sudah bisa dilakukan si kecil? Mengapa anak tetangga sebelah yang seusia dengan si kecil sudah bisa mengucapkan "mama" tetapi mengapa si kecil belum? Sebenarnya apa saja yang seharusnya sudah dapat dilakukan si kecil pada usianya sekarang? Dalam tumbuh kembangnya, si kecil akan mengalami berbagai tahapan yang harus diperhatikan. Sangatlah menyenangkan untuk mengamati dan membantu anak sejak bayi menjadi balita agar dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik.



Tahap Perkembangan Anak

Melihat hal-hal pertama yang bisa dilakukan si kecil, bisa menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan sebagai orang tua. Melihatnya tertawa, mendengarnya mengucapkan kata pertama, melihatnya berdiri atau berjalan dapat menjadi moment yang tak terlupakan. Walau kadang terlambat, orang tua dapat memberi dukungan untuk anak, maka sangatlah penting untuk mengetahui apa saja tahapan yang akan dilalui si kecil seiring bertambah usianya.
Tumbuh kembang seorang anak, dibagi menjadi 3 hal, yaitu:
  • Kemampuan Mental / Berpikir / Berbahasa

    Merupakan kemampuan untuk mendapatkan informasi dari sekitar juga menggunakan bahasa.
  • Kemampuan Fisik / Motorik / Sensorik

    Merupakan kemampuan anak untuk melakukan gerakan atau aktivitas fisik menggunakan anggota tubuhnya.
  • Kemampuan Sosial / Emosional

    Merupakan kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain untuk menunjukkan perasaannya.
Berikut ini adalah tahapan perkembangan seorang anak berdasarkan usia. Meski perkembangan setiap anak tidak selalu sama, namun angka ini bisa menjadi acuan umum.

Usia 0-2 bulan

 

Kemampuan Mental / Berpikir / Berbahasa

  • Senang melihat benda yang bergerak diikuti dengan gerakan mata atau kepala.
  • Membuat suara yang nyaring.
  • Mengenali suara orang lain dan tahu darimana asalnya.

Kemampuan Fisik / Motorik / Sensorik

  • Membuat ekspresi wajah yang berbeda.
  • Merespon saat merasakan sentuhan.
  • Sering mengisap jari atau menggunakannya untuk menyentuh benda di sekitarnya.

Kemampuan Sosial / Emosional

  • Senang menatap wajah orang.
  • Menangis dengan tangisan yang berbeda untuk menunjukkan rasa lapar, sakit atau mengantuk.
  • Tersenyum

Usia 3-6 bulan

 

Kemampuan Mental / Berpikir / Berbahasa

  • Berkreasi dengan suaranya sendiri.
  • Senang memperhatikan orang berbicara, khususnya yang berbicara dengan gaya seperti bayi.
  • Dapat mengucapkan satu suku kata mudah seperti "pa", "ma", "ba".

Kemampuan Fisik / Motorik / Sensorik

  • Duduk tanpa bersandar.
  • Memegang dan menggenggam benda.

Kemampuan Sosial / Emosional

  • Dapat menunjukkan senyuman yang berbeda-beda.
  • Suka bermain dengan bayi lain.
  • Merespons suara dengan sentuhan.

Usia 7-12 bulan

 

Kemampuan Mental / Berpikir / Berbahasa

  • Dapat menunjuk kepada sesuatu dengan kata-kata atau dengan bahasa isyarat.
  • Mengerti perintah. Misalnya: "Ayo, kesini!"

Kemampuan Fisik / Motorik / Sensorik

  • Dapat bermain dengan benda yang digenggamnya dengan menggunakan ibu jari dan jari-jarinya.
  • Merangkak
  • Berjalan dengan memegang perabot yang ada di rumah atau dengan bantuan orang lain.

Kemampuan Sosial / Emosional

  • Dapat menunjukkan rasa marah, takut atau cemas.
  • Mengajak orang lain ke suatu tempat dengan cara menunjuk suatu tempat atau mengikuti tempat yang ditunjuk orang lain

Usia 12-18 bulan

(1 tahun sampai 1,5 tahun)
 

Kemampuan Mental / Berpikir / Berbahasa

  • Berbicara dengan menggunakan belasan kata.
  • Melakukan beberapa tindakan untuk menyelesaikan masalah.
  • Mengerti kalimat pertanyan seperti "Dimana bonekamu?"

Kemampuan Fisik / Motorik / Sensorik

  • Dapat berdiri sendiri.
  • Mampu berjalan tanpa berpegangan.
  • Dapat mejaga keseimbangan.
  • Dapat meniru kegitan yang biasa dilakukan. Misal: minum dari gelas mainan.

Kemampuan Sosial / Emosional

  • Bersuara dengan menggunkan intonasi yang berbeda-beda untuk menunjukkan perasaannya.
  • Berusaha menolong orang yang kesakitan.

Usia 19-24 bulan

(1,5 tahun sampai 2 tahun)
 

Kemampuan Mental / Berpikir / Berbahasa

  • Memiliki lebih banyak kosakata yang dapat diucapkan juga dipahami.
  • Mampu menggunakan dua kata dalam suatu kalimat.

Kemampuan Fisik / Motorik / Sensorik

  • Dapat berlari.
  • Makan sendiri.
  • Memberi petunjuk saat akan buang air dan sudah dapat menahannya.

Kemampuan Sosial / Emosional

  • Dapat menunjukkan rasa malu, iri, rasa bersalah.
  • Mengenali diri saat di cermin.

Usia 2-3 tahun

 

Kemampuan Mental / Berpikir / Berbahasa

  • Dapat meniru tindakan orang dewasa yang rumit.
  • Suka untuk menonton TV.
  • Berbicara untuk meminta sesuatu atau mengajak melakukan sesuatu.

Kemampuan Fisik / Motorik / Sensorik

  • Dapat menggambar meniru pola tertentu.
  • Naik tangga dengan 2 tapak kaki di setiap anak tangga.
  • Menyusun balok.

Kemampuan Sosial / Emosional

  • Dapat menceritakan perasaannya.
  • Dapat membedakan laki-laki atau perempuan.

Usia 3-6 tahun

 

Kemampuan Mental / Berpikir / Berbahasa

  • Berbicara dengan menggunakan kalimat panjang dan mengandung beberapa ide.
  • Mampu menanyakan pertanyaan yang sulit.
  • Dapat bercerita tentang peristiwa tertentu.

Kemampuan Fisik / Motorik / Sensorik

  • Naik turun tangga dengan menggunakan 1 kaki di tiap anak tangga.
  • Menulis hal-hal yang sederhana, seperti namanya sendiri.
  • Suka jenis makanan tertentu.

Kemampuan Sosial / Emosional

  • Jika bermain dengan anak lain, suka mendominasi atau didominasi.
  • Dapat menyembunyikan emosinya, seperti rasa malu.
  • Mempunyai teman "dekat" yang memiliki kegemaran yang sama.

Mengetahui tahap perkembangan anak Anda dapat menjadi petunjuk bagi orang tua. Jika kemampuan anak belum sesuai dengan usianya, orang tua dapat membantu misalnya dengan menggunakan mainan untuk menstimulasi otak atau kemampuan fisiknya. Atau mengajak anak melakukan hal-hal bersama.  SOURCE
Continue reading →

Artikel Acak

Keluarga

FACEBOOK BOX

.

Followers

Musik

Herbal Tetes Pertama di Dunia

Kesehatan

Wisata